Dari Kemerdekaan ke Masa Depan: Pendidikan sebagai Jalan Pengabdian Ahmadiyah di Indonesia

Munadi AhmadKebangsaan4 min
Setelah merdeka, Indonesia menghadapi tugas membangun manusia dan masyarakat. Dalam perjalanan itu, Ahmadiyah turut menempatkan pendidikan sebagai pengabdian.
A-AA+A++

Jakarta, Warta Ahmadiyah — Kemerdekaan Indonesia tidak berakhir ketika Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945. Setelah sebuah bangsa merdeka, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kemerdekaan itu diisi: dengan manusia yang berilmu, masyarakat yang mandiri, dan kehidupan yang memberi ruang bagi setiap orang untuk berkembang.

Dalam perjalanan Ahmadiyah di Indonesia, pendidikan menjadi salah satu ruang penting untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ahmadiyah sendiri telah hadir di Nusantara sejak 1920-an, ketika Indonesia masih berada dalam masa pergerakan menuju kemerdekaan. Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) kemudian berdiri sebagai organisasi berbadan hukum pada 1953.

Pada masa awal kehadirannya, pendidikan dan penyebaran pengetahuan menjadi bagian dari dinamika pembaruan pemikiran Islam. Pertemuan para pelajar dan intelektual Muslim dengan gagasan-gagasan Ahmadiyah ikut menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai Islam, ilmu pengetahuan, dan perubahan masyarakat di Nusantara.

Baca juga: Ahmadiyah dan Indonesia: Percakapan Panjang tentang Islam, Kemajuan, dan Kebangsaan

Hubungan antara pendidikan dan gerakan Ahmadiyah juga memiliki jejak historis lain yang perlu ditempatkan secara tepat. Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI), yang secara organisatoris berbeda dari JAI, mendirikan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI) pada 1947. Penelitian mengenai PIRI mencatat bahwa lembaga tersebut merupakan salah satu amal usaha GAI di bidang pendidikan dan berkembang mengikuti perubahan sosial, budaya, serta kebijakan pendidikan nasional.

Kisah tersebut memperlihatkan satu hal penting: pada masa awal republik, pendidikan dipandang bukan hanya sebagai urusan sekolah, tetapi sebagai bagian dari usaha membangun manusia Indonesia. Kemerdekaan membutuhkan generasi yang mampu membaca, berpikir, menguasai pengetahuan, sekaligus memahami tanggung jawabnya terhadap masyarakat.

Semangat itu terus menemukan bentuk baru di lingkungan Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia. Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui lembaga formal, tetapi juga melalui berbagai program pembinaan yang menjangkau anak-anak dan generasi muda. Salah satunya adalah Rumah Belajar, yang dikembangkan sebagai ruang belajar, membaca, dan mengaji bagi anak-anak serta masyarakat sekitar.

Baca juga: Tarbiyat di Jemaat Ahmadiyah Wonoroto Teguhkan Tauhid hingga Pesan Kedamaian Islam

Pada 2026, Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia menyebut telah mengembangkan 41 Rumah Belajar di berbagai wilayah dan menargetkan jumlahnya terus bertambah. Di Jayapura, misalnya, Rumah Belajar Al-Masroor menyediakan fasilitas belajar, membaca, dan mengaji secara gratis bagi anak-anak dan masyarakat sekitar. Program tersebut merupakan bagian dari target pengembangan 100 Rumah Belajar di berbagai daerah.

Di sisi lain, pendidikan juga dikembangkan melalui sekolah dan pembinaan keagamaan. SMA Plus Al-Wahid, misalnya, menggabungkan kurikulum nasional dengan pembelajaran keislaman dan pembinaan kehidupan berjemaah. Pendidikan diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga generasi yang memahami agama dan mampu menerapkannya dalam kehidupan.