Hadapi Potensi Krisis Global JAI Rumuskan Langkah Mitigasi Keluarga

Munadi AhmadNasional2 min
A-AA+A++

Jakarta, Warta Ahmadiyah — Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia merumuskan panduan taktis bagi seluruh anggota untuk menghadapi potensi krisis. Arahan ini selaras dengan imbauan Humanity First Internasional pada Workshop Kesiapsiagaan Darurat pada 10 Oktober lalu.

Amir Nasional JAI, Zaki Firdaus Syahid, menginstruksikan setiap keluarga melakukan persiapan matang dalam 14 hari ke depan. “Langkah mitigasi pertama yang wajib disiapkan adalah Tas Siaga Bencana berbahan kuat dan tahan air,” jelasnya.

Barang krusial yang harus dimuat ke dalam tas tersebut meliputi senter, peluit darurat, perlengkapan mandi, hingga kotak P3K. “Kita juga memerlukan radio komunikasi karena sinyal internet maupun listrik berpotensi terputus total,” tuturnya.

Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Indonesia Antisipasi Dampak Perang Terhadap Rantai Pasok Pangan

Selain itu, warga diminta memasukkan cadangan air kemasan, makanan ringan tahan lama, dan dokumen penting. “Ketika terpaksa evakuasi meninggalkan rumah dalam hitungan detik, tas inilah yang harus langsung dibawa,” ujarnya.

Persiapan esensial kedua adalah menyediakan stok cadangan pangan harian untuk durasi 7 hingga 10 hari. “Pilihlah bahan pokok seperti beras atau sarden kaleng yang praktis dan tahan disimpan lama di suhu ruangan,” katanya.

Baca juga: Antisipasi Krisis Global JAI Mantapkan Sinergi dan Tanggap Darurat Nasional

Pengadaan logistik darurat ini harus mencakup ketersediaan air bersih, perlengkapan wanita, hingga nutrisi balita. “Penting juga bagi kita untuk secara berkala memeriksa tanggal kedaluwarsa pada obat-obatan dan kemasan makanan,” tambahnya.

Mengantisipasi terputusnya fasilitas umum, setiap rumah tangga turut diimbau menyiagakan perangkat memasak alternatif. “Kita mungkin akan sangat membutuhkan kayu kering, arang, atau kompor portabel saat pasokan listrik maupun gas terkendala,” paparnya.

Meski panduan persiapan darurat ini sangat rinci, pelaksanaannya tetap diukur berdasarkan kondisi masing-masing anggota. “Tidak harus dipaksakan, setiap keluarga agar menyesuaikan dengan kemampuan finansialnya untuk bisa bersiaga maksimal,” tegasnya.