Khuddam Connect Nasional Bahas Cara Menata Bahtera Keluarga

Munadi AhmadKhuddam2 min
Khuddam Connect 30+ bertema “Menata Bahtera Keluarga Ahmadi”
A-AA+A++

Bogor, Warta Ahmadiyah — Memasuki usia 30 tahun ke atas, Organisasi Pemuda Ahmadiyah atau Khuddammul Ahmadiyah menghadapi fase kehidupan yang berkaitan dengan kesiapan menikah, menjalani rumah tangga, dan membangun keluarga. Hal tersebut menjadi bahasan dalam Khuddam Connect 30+ bertema “Menata Bahtera Keluarga Ahmadi” di Gedung Peace Center Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, 3 Oktober 2026.

Salah satu pertanyaan yang akan dibahas adalah perbedaan antara siap menikah dan siap menjalani pernikahan. Peserta juga diajak melihat kesiapan mental, spiritual, emosional, dan sosial sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Baca juga: Bukan Sekadar Seremoni, Jemaat Ahmadiyah Purwokerto Ambil Bagian dalam Gerakan Pemuda Banyumas

Pembahasan kemudian diarahkan pada visi keluarga. Suami dan istri diharapkan memiliki tujuan yang sejalan, sekaligus mampu mengatur prioritas antara keluarga, pekerjaan, pengkhidmatan, dan kehidupan pribadi.

Realitas rumah tangga juga menjadi bagian penting dalam diskusi. Perbedaan karakter dan pendapat akan dibahas bersama cara menghadapi konflik secara bijaksana serta kapan persoalan keluarga perlu melibatkan pihak ketiga.

Selain menyelesaikan konflik, komunikasi menjadi perhatian khusus. Peserta akan diajak membahas cara mendengarkan pasangan, menyampaikan nasihat tanpa menghakimi, serta menjaga kedekatan ketika suami dan istri sama-sama memiliki kesibukan.

Baca juga: Pengajian Perdana Bersama Mubaligh Baru, Anggota JAI Waesili Didorong Perkuat Spirit Rohani

Kegiatan juga menempatkan kehidupan rohani dan pendidikan anak sebagai bagian dari keluarga. Pembahasan mencakup salat berjamaah, tilawat Al-Qur’an, doa di rumah, keteladanan orang tua, serta tanggung jawab membangun generasi yang mencintai Allah Taala, Rasulullah SAW, Al-Qur’an, dan Khilafat.

Pada bagian akhir, peserta diajak kembali melihat tujuan perjalanan sebuah keluarga: bukan hanya menjadi harmonis, tetapi memiliki arah yang jelas dan meninggalkan nilai bagi generasi berikutnya. Pertanyaan penutupnya sederhana namun mendasar: “Jika suatu hari kita sudah tidak ada, apa yang ingin kita tinggalkan kepada keluarga kita?”