Jakarta, Warta Ahmadiyah — Ketika Indonesia memasuki abad ke-20, gagasan tentang masa depan bangsa tidak hanya dibicarakan dalam ruang-ruang politik. Di kalangan umat Islam, muncul pula pertanyaan tentang bagaimana agama dapat menjawab perubahan zaman, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebangkitan masyarakat. Dalam percakapan panjang itulah berbagai gerakan pembaruan Islam, termasuk Ahmadiyah, hadir di Nusantara.
Kehadiran Ahmadiyah di Indonesia bermula dari perjalanan sejumlah pelajar Muslim Indonesia ke Qadian, India, pada 1920-an. Mereka membawa pulang gagasan dan pengalaman keagamaan yang kemudian berkembang di sejumlah wilayah Nusantara. Kehadiran tersebut berlangsung ketika gagasan mengenai identitas kebangsaan Indonesia juga sedang tumbuh.
Menariknya, pemikiran mengenai Ahmadiyah juga pernah bersinggungan dengan pemikiran Soekarno. Dalam Di Bawah Bendera Revolusi, Soekarno menyinggung tulisan-tulisan yang menurutnya memiliki corak rasional, modern, luas pandangan, dan logis. Pembacaan tersebut menempatkan diskusi mengenai Ahmadiyah dalam konteks perdebatan yang lebih luas tentang pembaruan pemikiran Islam.
Baca juga: Tarbiyat di Jemaat Ahmadiyah Wonoroto Teguhkan Tauhid hingga Pesan Kedamaian Islam
Di masa itu, modernitas bukan sekadar persoalan teknologi. Bagi banyak tokoh pergerakan, modernitas juga berkaitan dengan pendidikan, keberanian berpikir, penguasaan ilmu pengetahuan, serta kemampuan umat Islam membaca perubahan zaman.
Karena itu, perjalanan Ahmadiyah di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah intelektual umat Islam Indonesia. Ia menjadi bagian dari dinamika ketika umat Islam berusaha menjawab pertanyaan yang juga terus relevan hingga hari ini: bagaimana keyakinan agama dapat berjalan berdampingan dengan ilmu pengetahuan dan kehidupan modern?
Percakapan mengenai Islam dan kemajuan tersebut kemudian berkembang dalam berbagai bentuk. Pendidikan menjadi salah satu ruang penting. Di lingkungan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI), misalnya, gagasan mendirikan lembaga pendidikan muncul dalam Muktamar Purwokerto pada Mei 1947. Keputusan tersebut kemudian melahirkan Perguruan Islam Republik Indonesia (PIRI) pada 1 September 1947 di Yogyakarta.
PIRI menjadi contoh bagaimana gagasan keagamaan diterjemahkan ke dalam pembangunan manusia. Pada masa awal kemerdekaan, ketika Indonesia masih menghadapi situasi politik dan militer yang tidak stabil, pendidikan dipandang sebagai salah satu jalan untuk menyiapkan masyarakat menghadapi masa depan. Sekolah-sekolah PIRI kemudian berkembang di Yogyakarta dan sejumlah daerah lainnya.
Kajian akademik mengenai PIRI juga menunjukkan bahwa lembaga pendidikan tersebut mengalami berbagai penyesuaian seiring perubahan sosial, budaya, dan kebijakan negara. Pendidikan menjadi ruang perjumpaan antara gagasan keagamaan, kebutuhan masyarakat, dan perkembangan Indonesia sebagai negara modern.

Tidak ada Respon