Jakarta, Warta Ahmadiyah — Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, komunitas Ahmadiyah telah lebih dahulu hadir di Nusantara selama sekitar dua dekade. Dari kedatangan para pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Qadian hingga keterlibatan sejumlah anggotanya dalam perjuangan mempertahankan Republik, jejak tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang komunitas ini di Indonesia.
Kehadiran Ahmadiyah di Indonesia bermula dari perjalanan empat pemuda Sumatera ke Qadian, India, pada 1923 untuk mempelajari Islam. Dua tahun kemudian, Maulvi Rahmat Ali dikirim ke Indonesia dan tiba di Tapaktuan, Aceh, pada Oktober 1925. Dari wilayah tersebut, dakwah Ahmadiyah kemudian berkembang ke berbagai daerah di Nusantara.
Perjalanan itu berlangsung ketika gagasan tentang Indonesia sebagai bangsa dan negara masih berada dalam proses pembentukan. Pada 1928, misalnya, Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) berdiri dengan menyertakan nama “Indonesia” dalam identitas organisasinya, hanya beberapa bulan setelah Kongres Pemuda II dan Sumpah Pemuda. Salah satu tokohnya, Soedewo Partoadi Koesoemo, tercatat sebagai peserta Kongres Pemuda II mewakili Jong Islamieten Bond.
Baca juga: Tarbiyat di Jemaat Ahmadiyah Wonoroto Teguhkan Tauhid hingga Pesan Kedamaian Islam
Memasuki masa revolusi, sejumlah anggota Ahmadiyah turut mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Catatan sejarah internal Jemaat menyebut anggota Ahmadiyah terlibat dalam BKR-TKR, laskar rakyat, serta berbagai organisasi perjuangan. Di antaranya terdapat R. Mohammad Muhyiddin, Abdul Wahid HA, Malik Aziz Ahmad Khan, serta sejumlah anggota dari Padang, Medan, dan daerah lainnya.
Salah satu kisah yang menonjol adalah peran Sayyid Shah Muhammad. Dalam periode perjuangan mempertahankan kemerdekaan, ia aktif menyampaikan informasi mengenai perjuangan Republik Indonesia kepada dunia internasional. Dalam sebuah pertemuan di Yogyakarta, ia juga menyampaikan pembelaan terhadap posisi Indonesia di hadapan perwakilan asing. Catatan sejarah tersebut menyebut pidatonya kemudian disiarkan dalam berbagai bahasa dan mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh Indonesia.
Dukungan terhadap perjuangan Indonesia juga datang melalui jaringan Ahmadiyah di luar negeri. Pada 1946–1947, pimpinan Jemaat Ahmadiyah menyerukan agar negara-negara Islam mengakui kemerdekaan Indonesia. Para pengikut Ahmadiyah di berbagai negara juga diarahkan untuk mendoakan perjuangan bangsa Indonesia. Pernyataan mengenai dukungan tersebut diberitakan oleh Kedaulatan Rakjat pada Desember 1947.
Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Sadasari Hadiri Kemping Pemuda Lintas Agama di Majalengka
Keterlibatan tersebut tidak hanya berlangsung melalui diplomasi dan penyebaran informasi. Sejumlah anggota juga terlibat langsung dalam perjuangan bersenjata. Catatan mengenai E. Moh. Tayyib, misalnya, menyebut keterlibatannya dalam KNI serta BKR-TKR setelah Proklamasi. Ia kemudian memperoleh penghargaan pemerintah sebagai Perintis Kemerdekaan.
Dalam catatan GAI, sejumlah tokoh juga disebut berperan dalam mempertahankan Republik. Mayor Ismullah, misalnya, memimpin Batalyon 24 dari Divisi IX Yogyakarta dan terlibat dalam Palagan Ambarawa pada 1945. Ia kemudian gugur dalam masa Agresi Militer Belanda II pada awal 1949. Tokoh lain, Brigadir Jenderal Moehammad Bachroen, tercatat pernah memimpin sejumlah kesatuan militer dan kemudian memperoleh Bintang Gerilya.

Tidak ada Respon