Menjaga Hati, Jalan Menuju Ketakwaan

Munadi AhmadKeislaman2 min
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (aba) mengingatkan di Jalsah Salanah UK 2026, ketakwaan berawal dari hati yang bersih dan ikhlas.
A-AA+A++

Hampshire, Warta Ahmadiyah — Ketakwaan tidak hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga kebersihan hati. Pesan itu disampaikan Pimpinan Global Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (aba), saat menutup Jalsah Salanah UK 2026 di Hadeeqatul Mahdi, Hampshire, Inggris, Minggu (26/7/2026).

Dalam amanatnya, Beliau mengajak setiap Muslim untuk terus memeriksa keadaan hati agar tidak terjerumus ke dalam berbagai bentuk syirik, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Mengutip nasihat Luqman kepada putranya dalam Al-Qur’an, Ia mengingatkan bahwa syirik bukan hanya menyekutukan Allah secara terang-terangan, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk yang lebih halus, seperti mendahulukan kepentingan dunia, mencari pujian manusia, atau menggantungkan harapan kepada selain Allah.

Baca juga: Rumah Belajar Namorambe Ajak Berani Bermimpi Lewat Kegiatan Edukatif di Momen Hari Anak Nasional

Allah SWT berfirman:

“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman [31]: 13)

Khalifah Muslim Ahmadiyah menilai, ayat tersebut bukan sekadar peringatan untuk menghindari penyembahan berhala, tetapi juga ajakan agar setiap orang menjaga kemurnian niat dalam setiap amal yang dilakukan.

“Kebebasan dari syirik tidak hanya terdiri dari membaca La ilaha illallah. Orang-orang beriman harus melindungi diri mereka dari segala bentuk syirik, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi,” pesannya.

Baca juga: Kunjungi SMA Plus Alwahid Tasikmalaya, Amir Nasional JAI Dorong Penguatan Pendidikan Formal

Huzur menjelaskan bahwa ketakwaan lahir ketika seseorang menempatkan Allah sebagai tujuan utama dalam setiap keputusan dan perbuatannya. Karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya mengucapkan kalimat tauhid, tetapi juga harus menghadirkannya dalam cara berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, menjaga hati merupakan proses yang berlangsung terus-menerus. Seorang mukmin perlu senantiasa melakukan muhasabah agar ibadah, pengorbanan, maupun pelayanan kepada sesama benar-benar dilakukan demi meraih rida Allah, bukan demi penghargaan atau pengakuan manusia.