Bekasi, Warta Ahmadiyah- Bersama sejumalh organisasi dan komunitas, Lajnah Imailalh mendorong penguatan penangangan kekerasan seksual.
Bale Perempuan Bekasi bersama Rahima menggelar Diskusi Konsolidasi Gerakan Perempuan dalam Pengentasan Kekerasan Seksual dalam rangka peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP).
Kegiatan berlangsung di JW 54 Café and Resto, Jatiwaringin, Kota Bekasi, Jumat 26 Desember 2025.
Baca juga: Pererat Silaturahmi, Jemaat Ahmadiyah Cikampek Rabtah ke Koramil 0406
Diskusi ini menjadi ruang temu berbagai komunitas perempuan lintas organisasi dan lintas iman di Bekasi Raya untuk memperkuat sinergi dalam pencegahan, penanganan, perlindungan, pemulihan, serta ketidakberulangan kasus kekerasan seksual.
Hal ini seiring implementasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).
Sejumlah organisasi perempuan dan masyarakat sipil hadir, di antaranya Komunitas Bale Perempuan, Lajnah Imaillah Muslim Ahmadiyah, Fatayat NU, Muslimat, Aisyiyah, IPPNU, WKRI Bekasi, PEKKA, serta organisasi lintas iman lainnya.
Baca juga: Momen Tasyakur 100 Tahun, Malam Anshar Ahmadiyah Cibinong Digelar Khidmat
Pengurus Daerah Lajnah Imaillah Bekasi Raya, turut hadir diwakili oleh Sofia Farzanah dan Andi Naureen.
Dalam diskusi panel yang menghadirkan pemateri dari Rahima, Vera dan Komnas Perempuan, Dahlia Madanih.
Para narasumber menyoroti masih adanya tantangan serius dalam implementasi UU TPKS, terutama terkait akses keadilan dan layanan komprehensif bagi korban.
Baca juga: Liburan Sekolah, Anak-Anak Ahmadi Bogor Kunjungi Vihara Dhanagun
Perwakilan Lajnah Imaillah Jabar 1, Sofia Farzanah, menegaskan bahwa pendampingan korban kekerasan seksual membutuhkan kerja jangka panjang dan kolaboratif.
“Membersamai korban kekerasan seksual adalah proses panjang yang melibatkan banyak faktor, sehingga membutuhkan dukungan penuh, termasuk dukungan psikososial,” ujarnya.
Sofia menyebut sejauh ini penangangan kekerasan seksual belum berjalan secara optimal.
“Penanganan kekerasan seksual di Bekasi Raya memang belum sepenuhnya berjalan optimal,” ungkapnya.
Namun konsolidasi berbagai komunitas perempuan ini menjadi langkah awal untuk saling menguatkan dan menghadirkan bantuan yang lebih menyeluruh,” pungkas Sofia. *