Jakarta, Warta Ahmadiyah – Tim Trustbuilding Program (TBP) Indonesia yang diwakili oleh Riri, Idan, dan Ninis melakukan kunjungan silaturahmi ke Masjid Al-Hidayah, markas Jemaat Muslim Ahmadiyah Kebayoran.
Kunjungan pada Senin 16 Februari 2026 ini difokuskan untuk mengenal lebih dalam profil Ahmadiyah sekaligus menghapus stigma melalui dialog langsung di bulan Ramadhan.
Tim TBP disambut hangat oleh Mubaligh Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Mln Harpan, perwakilan Ahmadiyya Muslim Students Association (AMSA) Mohammad Umar dan Umar Zafrullah.
Ikut serta perwakilan Ahmadiyya Muslim Students Association for Women (AMSAW) Rara, Rabiya, dan Vivi.
Baca juga: Nashirat Manislor Termotivasi Lewat Program Piala Bergilir Literasi
Melalui diskusi mendalam mengenai tantangan trauma komunal akibat intoleransi, pertemuan ini membuahkan kesepakatan kolaborasi strategis untuk mengadopsi modul ‘Healing Historical Trauma’ sebagai upaya pemulihan luka batin pemuda minoritas.
Ketua AMSAW Indonesia, Rodhiyah Mardiyyah, menegaskan bahwa menciptakan safe space atau ruang aman kini menjadi agenda prioritas bagi pemuda Ahmadiyah.
“Guna membantu proses pemulihan trauma akibat pengalaman persekusi dan diskriminasi di masa lalu,” kata wanita yang akrab disapa Rara tersebut.
Langkah ini pun mendapat apresiasi internasional dari proofreader senior Initiatives of Change (IofC) asal Kanada, Peter.
Baca juga: Aksi Superhero Ramadhan, Jemaat Ahmadiyah Denpasar Donorkan Darah
Melalui pesan tertulisnya, Peter memberikan testimoni bahwa di Kanada, komunitas Ahmadiyah sangat dihormati karena kemurahan hati dan kontribusi sosialnya.
“Mereka kelompok terpelajar yang melakukan banyak kebaikan bagi masyarakat,” tulisnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mubaligh Jemaat Ahmadiyah, Mln Harpan juga menunjukkan sisi inklusif Ahmadiyah melalui kontribusi kemanusiaan nyata.
Baca juga: Aksi Superhero Ramadhan, Jemaat Ahmadiyah Denpasar Donorkan Darah
Sebut saja seperti penyelenggaraan bazaar Ramadhan bagi warga serta proyek monumental penerjemahan Al-Quran ke dalam lebih dari 100 bahasa.
Sinergi antara TBP, AMSA, dan AMSAW ini menjadi tonggak penting dalam membangun jembatan perdamaian.
Melalui keterbukaan dan literasi keberagaman, kolaborasi ini diharapkan mampu mengubah stigma menjadi empati serta merajut kembali harmoni lintas komunitas di Indonesia. *