Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat terdampak.
Dalam hitungan detik, guncangan gempa memaksa ribuan warga meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih aman.
Bagi sebagian masyarakat, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini tidak lagi dapat ditempati.
Bahkan bagi warga yang rumahnya masih berdiri dan tampak baik, rasa aman belum sepenuhnya kembali. Gempa susulan yang masih terjadi setiap hari membuat sebagian warga memilih tetap tinggal di tenda karena khawatir kembali ke rumah.
Berdasarkan data terkini, sebanyak 100 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Sebanyak 1.298 orang mengalami luka-luka, dengan 336 orang di antaranya mengalami luka berat.
Sementara itu, 150.576 warga terpaksa mengungsi akibat kerusakan rumah dan masih tingginya intensitas gempa susulan.
Di sejumlah wilayah, masyarakat membangun posko-posko pengungsian sederhana, termasuk hingga tingkat dusun. Dalam kondisi terbatas, mereka harus memenuhi kebutuhan sehari-hari sembari menghadapi ketakutan yang belum berakhir.
“Bantuan yang paling dibutuhkan masyarakat di sana adalah kebutuhan bahan pokok. Masih banyak yang belum mendapat bantuan karena akses yang belum 100 persen pulih, sehingga bantuan belum merata. Tidak hanya sembako, tetapi juga kebutuhan kesehatan dan yang tidak kalah penting adalah bantuan psikologis untuk mereka. Sampai saat ini gempa masih terjadi setiap hari dan masih menghantui warga, sehingga mereka harus tinggal di tenda, walaupun ada warga yang rumahnya masih bagus,” ujar Agil Cahyo Manembah, salah satu staf program Humanity First Indonesia.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Humanity First Indonesia.
Sejak gempa terjadi, Humanity First Indonesia berkoordinasi dengan relawan lokal, memantau perkembangan situasi, serta melakukan assessment untuk mengetahui kebutuhan masyarakat secara langsung.
Hasil assessment menunjukkan bahwa banyak warga terdampak berada di posko-posko pengungsian kecil yang tersebar hingga tingkat dusun.
Kondisi tersebut membuat penyaluran bantuan perlu dilakukan secara langsung agar dapat menjangkau masyarakat yang belum memperoleh bantuan secara merata.
Berdasarkan kebutuhan di lapangan, Humanity First Indonesia memfokuskan respons tahap awal pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Dalam beberapa hari terakhir, tim dan relawan telah bergerak menuju sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Posko Golosalonto, Desa Itejaya, Kecamatan Riung, serta Dusun Goloite, Desa Itejaya, Kecamatan Riung.
Respons kemanusiaan kemudian terus dilanjutkan menuju wilayah Nagekeo.
Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam jam. Sebanyak 15 relawan terlibat dalam respons tersebut, dengan Humanity First Indonesia berkolaborasi bersama komunitas lokal Komunitas Bolonga Boys untuk membantu menjangkau masyarakat di wilayah terdampak.
Bantuan yang disalurkan meliputi beras, susu, air mineral, mi instan, telur, Energen, sayur-sayuran, sabun mandi, sabun cuci, popok bayi, perlengkapan perempuan, serta pakaian layak pakai.
Bagi masyarakat yang sedang bertahan di pengungsian, bantuan tersebut bukan sekadar kebutuhan logistik.
Kehadiran bantuan menjadi bentuk dukungan bagi keluarga-keluarga yang tengah berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.
Bagi Agil, kehadiran bantuan memiliki arti yang jauh lebih besar bagi masyarakat yang berada jauh dari pusat kota dan masih menghadapi keterbatasan akses.
“Makna kehadiran Humanity First atau bantuan apa pun dari mana saja bagi mereka adalah sebuah nyawa. Mereka merasa berada di sebuah pulau kecil di wilayah timur yang jauh dari kota besar. Bantuan sekecil apa pun bagi mereka sangat berarti. Mereka merasa memiliki keluarga jauh, orang yang peduli terhadap mereka, walaupun berada di tempat yang jauh,” ungkapnya.
Hingga saat ini, bantuan Humanity First Indonesia telah menjangkau tiga wilayah dan tiga titik posko pengungsian, dengan total bantuan sebanyak Rp. 9.009.304,-.
Namun, respons kemanusiaan ini belum berakhir. Masih terdapat wilayah yang membutuhkan bantuan dan masyarakat yang belum terjangkau secara merata karena keterbatasan akses.
Humanity First Indonesia berkomitmen untuk terus menyisir wilayah-wilayah terdampak dan mengidentifikasi lokasi yang masih membutuhkan bantuan, khususnya masyarakat yang belum atau masih minim mendapatkan dukungan.
“Kita akan terus menyisir lokasi yang memang membutuhkan dan kurang mendapat bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana. Tetapi tentu kami membutuhkan bantuan dana dari para donatur untuk mendukung aksi kemanusiaan ini,” ujar Agil.
Bagi masyarakat terdampak, proses pemulihan tidak berhenti ketika guncangan utama berakhir.
Ketika gempa susulan masih terjadi, rasa takut masih menyelimuti, dan rumah belum sepenuhnya menjadi tempat yang aman untuk kembali, perjuangan untuk bangkit masih panjang.
Karena itu, dukungan kemanusiaan masih sangat dibutuhkan, bukan hanya dalam bentuk bahan pokok, tetapi juga kebutuhan kesehatan dan dukungan psikologis bagi masyarakat yang terus hidup dalam ketakutan akibat gempa susulan.
Humanity First Indonesia akan terus melanjutkan respons kemanusiaan bersama relawan dan komunitas lokal untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Sebab bagi mereka yang berada jauh dari pusat kota dan memiliki akses bantuan yang masih terbatas, sebuah bantuan kecil dapat memiliki arti yang begitu besar: sebuah tanda bahwa mereka tidak dilupakan, bahwa masih ada yang peduli, dan bahwa mereka tidak harus menghadapi masa sulit ini sendirian.
Humanity First Indonesia
Kemanusiaan tidak boleh berhenti

Tidak ada Respon