Bahas Kebebasan Beragama Jemaat Ahmadiyah Sulsel Rajut Persaudaraan Antarumat

Munadi AhmadRabthah2 min
A-AA+A++

Makassar, Warta Ahmadiyah — Jemaat Ahmadiyah Sulawesi Selatan menghadiri Sarasehan Demokrasi dan Kebebasan Beragama di Universitas Negeri Makassar pada Jumat (23/10). Acara yang diinisiasi oleh Komunitas GUSDURian ini menjadi wadah penting untuk merawat kebangsaan.

Kehadiran perwakilan Jemaat menjadi wujud komitmen ajaran Islam yang senantiasa mengedepankan dialog dan perdamaian. Silaturahmi lintas iman ini terbukti sangat efektif untuk mengikis stigma negatif di tengah masyarakat.

Baca juga: Khalifah Islam Ahmadiyah V Peringatkan Ancaman Krisis Pangan Akibat Perang

Forum tersebut menghadirkan tokoh nasional Alissa Wahid dan Prof. Mahfud M.D. sebagai narasumber utama. Keduanya membedah berbagai aspirasi publik terkait tantangan kebebasan beribadah di Indonesia dari kacamata konstitusi.

Dalam sesi diskusi, Koordinator OASE INTIM Makassar, Christine Josefien Hutubessy, menyoroti iklim intoleransi di Sulawesi Selatan. Ia secara terbuka menyayangkan masih adanya gangguan terhadap aktivitas keagamaan kelompok minoritas, termasuk Muslim Ahmadiyah.

Menanggapi berbagai masukan peserta, Prof. Mahfud M.D. memberikan pencerahan komprehensif dari sudut pandang hukum tata negara. Dialog terbuka semacam ini diharapkan mampu membuka jalan bagi pemenuhan hak-hak sipil beragama.

Baca juga: Soroti Eskalasi Global Khalifah Islam Ahmadiyah Peringatkan Ancaman Perang Dunia

Momen sarasehan ini juga dimanfaatkan oleh Mubalig Daerah JAI Sulsel untuk mempererat persaudaraan antarumat. Terjalin interaksi yang sangat hangat dengan berbagai tokoh lintas agama, termasuk Ketua Umum PERMABUDHI, Yonggris Lao.

Keakraban tersebut bahkan berbuah undangan khusus bagi perwakilan JAI untuk menghadiri agenda internal umat Buddha keesokan harinya. Sinergi ini membuktikan bahwa warga Ahmadiyah selalu diterima luas sebagai mitra dialog yang setara.

Writer: Dr. Rakeeman R.A.M. JumaanEditor: Munadi Ahmad