Sleman, Warta Ahmadiyah — Perbedaan iman tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun kehidupan yang adil dan damai. Sebaliknya, ruang perjumpaan lintas iman dapat menjadi jalan untuk membangun saling percaya, memperkuat kemanusiaan, dan menjawab berbagai persoalan kebangsaan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Talkshow Dialog Publik Institut DIAN/Interfidei di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (8/8/2026). Mengusung tema “Dialog Antar-Iman untuk Keadilan, Kemanusiaan, dan Perdamaian”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari refleksi 35 tahun kiprah Interfidei dalam membangun dialog lintas iman di Indonesia.
Selama 35 tahun, Interfidei konsisten membuka ruang perjumpaan bagi berbagai kelompok agama untuk membangun hubungan yang dilandasi saling percaya. Dalam forum tersebut, perbedaan dipandang bukan sebagai sekat, melainkan kekuatan untuk bersama-sama menghadirkan kehidupan yang lebih adil, damai, dan berkelanjutan.
Baca juga: Shiratun Nabi di Purwareja Klampok Tekankan Keteladanan Akhlak Rasulullah SAW
Diskusi membahas sejumlah persoalan yang berkaitan dengan kehidupan keberagaman di Indonesia, mulai dari perjalanan dialog antar-iman, tantangan Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB), kolaborasi lintas iman dalam mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), hingga peran agama dalam merespons krisis lingkungan dan perubahan iklim.
Kehadiran berbagai tokoh lintas iman memperlihatkan bahwa persoalan kebangsaan membutuhkan kerja sama yang melampaui batas identitas. Di antara tokoh yang hadir adalah Bante Panyavaro, KH Abdul Muhaimin, Ketua MUI DIY Prof. Machasin, dan Prof. Laksono.
Anggota Ansharullah Majelis Yogyakarta turut hadir dalam forum tersebut sebagai bagian dari perjumpaan Jemaat Ahmadiyah dengan berbagai elemen masyarakat lintas iman. Kehadiran tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas silaturahmi sekaligus mengikuti diskusi mengenai isu-isu kemanusiaan dan kehidupan beragama.
Baca juga: Dari Toleransi Menuju Persaudaraan, Ruang Perjumpaan Dinilai Penting bagi Indonesia
Dialog yang berlangsung secara interaktif itu juga dapat diikuti masyarakat dari berbagai daerah melalui Zoom dan kanal YouTube Institut DIAN/Interfidei. Dengan demikian, ruang perjumpaan tidak berhenti pada peserta yang hadir secara langsung, tetapi dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Melalui momentum 35 tahun kiprahnya, Institut DIAN/Interfidei kembali menegaskan pentingnya dialog lintas iman sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang saling menghormati. Ketika perbedaan dipertemukan dalam ruang dialog dan kerja sama, agama dapat menjadi kekuatan untuk memperkuat keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian di Indonesia.

Tidak ada Respon