Mataram, Warta Ahmadiyah – Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia menghadiri Moderation Connect 2026 di UIN Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis, 13 Agustus 2026.
Forum ini mempertemukan dosen dan perwakilan lintas agama untuk memperkuat moderasi beragama.
JAI diwakili Ketua DPW NTB Ir. Jauzi, Mubaligh NTB Mln. Pasadino, Mubaligh Lombok Timur Mln. Syer Ali, Qaid Wilayah, serta pengurus daerah Lajna Imaillah.
Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, menegaskan moderasi beragama harus menjadi ruang perjumpaan, bukan sekat. Menurutnya, Rumah Moderasi UIN Mataram dibangun untuk menjadi jembatan di tengah keberagaman.
“Tagline kita membangun jembatan, bukan membangun tembok,” kata Masnun.
Baca juga: Semarak Kemerdekaan, Rumah Belajar HF Namorambe Bangun Kebersamaan Lewat Lomba 17 Agustus
Ia menyebut jembatan tersebut mencakup aspek budaya, hukum, dan ekologi. Dalam masyarakat majemuk, perbedaan perlu dihadapi melalui penghormatan terhadap budaya, dialog, serta sikap tidak memaksakan kehendak.
Masnun juga menekankan kebebasan, kesetaraan, dan keadilan sebagai nilai fundamental yang terdapat dalam berbagai agama dan tradisi.
Sementara itu, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, mengatakan sebagian besar masyarakat Indonesia berada pada posisi damai. Namun, kelompok yang aktif mendukung moderasi dapat memengaruhi masyarakat yang berada di tengah.
“Battle ground kita itu sebetulnya ada di sini,” ujar Ahmad Zainul saat menjelaskan posisi masyarakat dalam isu moderasi melalui ilustrasi kurva normal.
Baca juga: Dari Kemerdekaan ke Masa Depan: Pendidikan sebagai Jalan Pengabdian Ahmadiyah di Indonesia
Menurutnya, penguatan moderasi perlu dilakukan dengan memperbanyak narasi tentang toleransi, keadilan, dan kesetaraan. Narasi tersebut tidak harus selalu menggunakan istilah “moderasi beragama”.
“Kalau kita terus-menerus mengatakan keadilan, kesetaraan, dengan sendirinya moderasi beragama,” katanya.
Ahmad Zainul menyebut para peserta forum sebagai “duta-duta moderasi beragama” yang memiliki peran untuk terus memperkuat narasi perdamaian di tengah masyarakat.
Sejalan dengan itu, Ketua DPW Muslim Ahmadiyah NTB menilai moderasi beragama memang tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus dipraktikkan melalui tindakan nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
Ia mengatakan kehadiran JAI dalam forum seperti Moderation Connect menjadi bagian dari upaya membangun hubungan sekaligus memperkenalkan Muslim Ahmadiyah kepada publik melalui kerja-kerja kemanusiaan.

Tidak ada Respon