Tasikmalaya, Warta Ahmadiyah- Di sebuah sudut tenang di Kampung Cipadung, Purwaharja, Kota Banjar, akhir pekan tak lagi hanya diisi suara gawai dan riuh permainan tanpa arah.
Setiap Sabtu dan Minggu pagi, tepat pukul 10.00, dari sebuah rumah sederhana. Anak-anak berdatangan dengan buku tulis di tangan, sebagian masih digandeng orang tuanya, sebagian lagi berlari kecil dengan wajah penuh semangat.
Di rumah itulah, Rumah Belajar Ki Hajar tumbuh—bukan sebagai lembaga besar, melainkan sebagai ruang kecil yang memelihara harapan.
Rumah belajar ini lahir dari kegelisahan seorang guru bernama Nurkholiah, ia adalah seorang Lajnah, sebutan komunitas perempuan dari Jemaat Muslim Ahmadiyah Banjar, yang merasa perlu mengambil langkah nyata di luar ruang kelas formal.
Dengan segala keterbatasan waktu dan sumber daya, ia memilih membuka pintu rumahnya sebagai ruang alternatif belajar.
Nama Ki Hajar disematkan bukan tanpa makna. Ada semangat pendidikan yang memerdekakan, humanis, dan berpihak pada murid yang ingin dihidupkan kembali, sebagaimana cita-cita Ki Hajar Dewantara.
Selama 90 menit, dari pukul 10.00 hingga 11.30, ruang tamu berubah fungsi menjadi kelas kecil. Tanpa meja berderet rapi atau papan tulis besar, anak-anak duduk lesehan, membuka buku, dan mulai belajar dengan suasana yang jauh dari kesan kaku.
Tidak ada seragam, tidak ada tekanan nilai. Yang ada hanyalah kehangatan, perhatian, dan proses belajar yang mengalir alami.
Peserta yang datang beragam. Ada anak-anak PAUD yang masih belajar mengenal huruf dan angka melalui permainan sederhana.
Ada siswa SD yang berlatih membaca dengan suara terbata namun penuh percaya diri. Ada pula siswa lainya yang datang membawa soal-soal pelajaran sekolah, meminta bantuan memahami materi yang belum mereka kuasai. Jumlahnya memang baru sekitar 15 anak.
Namun bagi Nurkholiah, setiap anak yang hadir adalah dunia kecil dengan harapan besar. Di sinilah mereka bukan sekadar murid, tetapi individu yang dihargai proses belajarnya.
Rumah Belajar Ki Hajar tidak hanya menjadi tempat bimbingan belajar gratis, tetapi juga menjelma menjadi taman baca anak. Rak-rak sederhana dipenuhi buku sesuai usia mereka buku cerita, pengetahuan, hingga buku bergambar yang mengundang rasa ingin tahu.
Pelan-pelan, kebiasaan baru terbentuk. Anak-anak mulai akrab dengan buku. Mereka tak lagi datang hanya untuk mengerjakan tugas, tetapi juga untuk membaca cerita. Di sela belajar, terdengar tawa saat mereka menemukan gambar menarik atau kisah lucu di halaman buku.
Rumah belajar ini juga menjadi alternatif kegiatan positif di akhir pekan. Waktu yang biasanya dihabiskan menatap layar kini beralih pada interaksi langsung, diskusi kecil, dan permainan edukatif. Di sini, anak-anak belajar bukan hanya membaca dan berhitung, tetapi juga belajar disiplin, kebersamaan, dan saling menghargai.
Bagi Nurkholiah sang pendiri, rumah belajar ini bukan sekadar tempat mengajar, melainkan ruang pengabdian.
Ia belajar memahami lebih dekat kondisi masyarakat sekitar, melihat langsung kebutuhan anak-anak, dan merasakan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan.
Setiap akhir pekan menjadi pelajaran hidup yang tak kalah berharga dari apa yang diajarkan di sekolah formal.
Rumah Belajar Ki Hajar hadir dan didirikan bertepatan dengan momentum peringatan ulang tahun Kota Banjar. Sebuah ikhtiar kecil yang diniatkan sebagai bentuk dedikasi nyata bagi kemajuan pendidikan di lingkungan masyarakat terdekat. Tidak muluk-muluk, tidak berorientasi besar, tetapi konsisten dan tulus.
Nurkholiah sebagai anggota Jemaat Muslim Ahmadiyah Kota Banjar menyadari pentingnya pendidikan bagi masyarkat lingkungannya, walaupun ia dan anggota Jamaah lainnya masih merasakan diskriminasi dari kebijakan pemkot banjar yang masih membatasi kegiatan aktipitas ibadah jemaahnya, namun di rumah sederhana itu, pendidikan kembali menemukan maknanya yang paling dasar: hadir, peduli, dan memberi ruang tumbuh. Sebuah pengingat bahwa kepedulian terhadap pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi bisa lahir dari langkah kecil yang dilakukan dengan hati.
Kontributor: Nanang AH