Usulan tersebut disambut positif oleh muballigh Ahmadiyah karena dinilai dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan peserta.
Metode diskusi teologi itu juga pernah diusulkan dalam pertemuan dengan GMAHK Wenang, Manado, Sulawesi Utara, sekitar 1996.
Dialog ini diharapkan menjadi ruang untuk saling memahami perbedaan keyakinan tanpa mengesampingkan sikap saling menghormati. *

Tidak ada Respon