Relawan Bolonga Boys Warga Terdampak Gempa NTT, Apresiasi Langkah Humanity First Indonesia

Talhah Lukman ASosial2 min
Relawan Bolonga Boys Warga Terdampak Gempa NTT, Apresiasi Langkah Humanity First Indonesia
A-AA+A++

Kupang, Warta Ahmadiyah- Pemulihan warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih berlangsung.

Di tengah kondisi tersebut, relawan lokal terus bergerak membantu masyarakat yang membutuhkan.

Salah satunya Ferdinandus Djawa Logo alias Rudi.

Baca juga: Ijtima Mubayyin Baru Wilayah Diikuti 106 Peserta di Sukabumi

Bersama komunitas Bolonga Boys, dia memilih turun langsung menjadi relawan meski turut merasakan dampak gempa.

Saat pertama kali tiba di lokasi terdampak, Rudi melihat sejumlah bangunan mengalami kerusakan hingga roboh. Warga juga masih bertahan di sejumlah titik pengungsian.

Namun, kondisi pengungsi menjadi hal yang paling membekas baginya. Tidak hanya menghadapi persoalan fisik, mereka juga harus menghadapi tekanan mental setelah bencana.

Baca juga: Jalsah Salanah Sumatera Bagian Utara Satukan Peserta di Tanjung Medan

“Yang paling membekas bagi saya adalah penderitaan para pengungsi, baik secara fisik maupun mental,” tutur Rudi.

Rudi kemudian mendatangi sejumlah posko dan berinteraksi dengan warga.

Dia menemukan masyarakat yang kehilangan rumah, terluka akibat reruntuhan, hingga kehilangan anggota keluarga.

Anak-anak juga menjadi perhatian. Aktivitas pendidikan belum sepenuhnya kembali normal sehingga sebagian dari mereka tetap belajar dengan fasilitas seadanya di pengungsian.

Baca juga: JAI Sadasari Hadiri Maulid Nabi Muhammad SAW di Ponpes Al-Mizan

Di tengah keterbatasan, Rudi melihat semangat warga untuk bangkit. Bahkan, beberapa masyarakat tetap bekerja di sela-sela kondisi pascagempa dan gempa susulan.

“Walaupun dalam keadaan terpukul, mereka masih bisa tersenyum dan memiliki semangat untuk kembali bangkit. Di titik itulah saya justru semakin semangat menjadi relawan,” katanya.

Menjadi relawan di tengah bencana tentu bukan pekerjaan mudah. Rudi mengaku sempat merasa lelah dan sedih, bahkan berada pada titik merasa tidak sanggup melanjutkan.

Meski demikian, semangat warga yang ditemuinya membuat Rudi tetap bertahan.

“Dari situ saya sadar bahwa hidup ini tidak ada yang permanen. Semuanya hanyalah titipan,” ujarnya.